Black Friday Promo Hosting Unlimited Indonesia
ARTJOG 2019

ARTJOG, event seni rupa kontemporer terbesar di Indonesia, tahun ini kembali diselenggarakan. Dengan mengusung tema Art in Common, ARTJOG bertujuan untuk menjadikan perhelatan ini semakin ramah dan membumi untuk segenap kalangan audiens. Sehingga ARTJOG dapat lebih dekat dengan penikmat seni seluas-luasnya. Event ini juga membuka open call untuk para seniman Indonesia maupun internasional. Berikut persyaratan open call ARTJOG 2019.

Artjog 2019

ARTJOG
ARTJOG 2019
ARTJOG MMXIX – common|space | konsep kuratorial
ARTJOG 2019 (selanjutnya ditulis ARTJOG MMXIX) berangkat dari gagasan tentang ‘ruang’ (space) sebagai dimensi dari dunia di mana manusia hidup: sebuah matra di mana segala sesuatu dapat hadir secara simultan, pada momen yang sama. ‘Ruang’ adalah konstruk yang menentukan hubungan-hubungan antara berbagai posisi, perspektif dan persepsi individu maupun kelompok terhadap kenyataan-kenyataan dunia. Judul common|space dipilih untuk mendekatkan ARTJOG pada pengertian pameran atau festival sebagai sebuah ‘ruang bersama’—sebagaimana arsitektur, urbanisme dan planologi, menggunakan istilah itu untuk menjelaskan ruang atau area fisik yang dirancang untuk digunakan oleh banyak orang—seperti taman, lobby, atau ruang baca di perpustakaan.

Untuk merealisasikan gagasan tersebut, ARTJOG hendak mempertemukan para praktisi seni dengan praktisi dari bidang kreatif lain dalam sebuah ruang penciptaan bersama. Sejumlah perupa akan diundang untuk memasukkan proposal karya kolaboratif. Sebagai sebuah strategi artistik, kolaborasi—dari colaborare, atau ‘bekerja bersama—adalah praktik yang sangat relevan dengan pengertian the commons. Dalam bingkai kerja modernis, kolaborasi dianggap sebagai terobosan metodologis berdaya-cipta (inventive) yang mampu menghasilkan kebaruan-kebaruan estetik. Sementara pada masa yang lebih baru, sejumlah sejarawan telah mendiskusikan kolaborasi sebagai cara baru untuk meredefinisi praktik seni, sekaligus suatu upaya sadar para seniman untuk memproyeksikan identitas baru seniman yang terlanjur dikonstruksikan sebagai sosok terisolir dan penyendiri. Secara umum, kolaborasi adalah manifestasi dari semangat keterbukaan dan mencairnya subjektivitas ‘seniman’—sebagai sang pengarang: individu tunggal yang ‘jenius’ dan partikular. ARTJOG mengharapkan bahwa seniman-seniman yang diundang untuk proyek kolaborasi ini dapat mengajukan proposal yang mendorong eksperimentasi-eksperimentasi interdisiplin.

ARTJOG MMXIX – common|space juga bermaksud membetot persoalan ‘ruang’ dan ‘ruang|bersama’ lebih luas ke dalam wacana yang menggandeng berbagai perspektif ekologis. Selaras dengan pengertian semula ‘commons’ sebagai khazanah sumber daya alam bersama (air, oksigen, lautan, sungai, dll.), common|space dalam konteks ini adalah juga metafor bagi lingkungan sosial, bumi dan alam semesta. Pertanyaan utamanya: ruang bersama semacam apa yang kita tinggali sekarang ini?

 

Setelah melalui sejumlah perubahan masif secara terus-menerus melalui proses modernisasi sepanjang abad ke-20, yang kita sering sebuat ‘lingkungan’ hari-hari ini harus dilihat secara baru. Akselerasi perubahan ekosistem bumi telah meningkat tajam semenjak adanya kepercayaan tentang manusia sebagai entitas pusat dalam semesta. Manusia modern percaya bahwa alam semesta ada untuk dijelajahi dan ditaklukan. Tapi selain menghasilkan berbagai penemuan dan pencanggihan dalam cara-cara manusia mengeksploitasi alam, kepercayaan itu juga telah mendorong perubahan-perubahan yang sangat signifikan pada kondisi alam semesta.

 

Jika pada masa lampau perubahan-perubahan alam semesta itu lebih ditentukan oleh kekuatan alam semesta sendiri (seperti gunung meletus, badai salju, jatuhnya meteor, dll.), kini manusia justru menjadi sumber dan penentu perubahan itu (misalnya pada fenomena pemanasan global, atau penggundulan hutan, polusi lautan oleh plastik, yang punya dampak sama besarnya dengan perubahan alamiah alam). Para saintis menyebut era ini sebagai Antroposin (anthropocene). Anthropocene, secara etimologis merupakan gabungan dua kata Yunani; anthropo yang berarti ‘manusia’ dan –cene yang berarti ‘baru’. Penggunaan term anthropocene, mengacu pada penamaan dalam periode geologi, semacam: pleistocene, holocene, paleocene. Anthropocene digunakan untuk mengemukakan sebuah periode baru di mana aktifitas manusia mulai memberikan dampak global yang signifikan terhadap kondisi geologi dan ekosistem di Bumi.
Selain kondisi alam semesta (bumi, langit, flora, fauna, dsb.) yang berubah, kita juga mendapati perubahan ekologis itu berlangsung pada tataran sosial. Pada abad ke-21, yang kita sebut ‘ekosistem’ boleh jadi adalah suatu tatanan lingkungan baru di mana penemuan-penemuan teknologis (mesin, komputer, robot, dll.) dan berbagai jenis objek / organisme alam (termasuk manusia, flora dan fauna di dalamnya) sepanjang satu abad terakhir menjalani proses ko-habitasi dan ko-aktivasi. Hari-hari ini manusia menjadi sangat bergantung terhadap—dan pada tingkat yang ekstrim dikendalikan oleh—robot, mesin dan komputer. Teknologi digital juga kini mampu menghadirkan ‘lingkungan’ atau ‘alam’ yang lain—realitas virtual—di mana angka-angka atau digit dikonversi menjadi simulakra. Semua itu hanyalah sekilas gambaran bagaimana ruang|bersama yang kita tinggali saat ini benar-benar memerlukan cara pandang, reposisi, pemikiran ulang, perenungan dan kritik yang baru.

 

Persyaratan

Maksimal usia 35 tahun
Entry Period: 9 Februari-4 Mei 2019
Pengumuman seniman yang terpilih akan dilaksanakan parada tanggal 8 Mei 2019.

 

Formulir pendaftaran bisa di download di sini

 

Suber: artjog.co.id

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here