Bandung, Antara Desain Art Déco dan Pablo Picasso

    265

    Gairah seni di kota Bandung pada dasarnya sudah dimulai sejak era kolonial. Sejak dulu, kota ini memang memiliki peran yang cukup berbeda dengan kota lainnya.

    Entah apa alasannya mengapa kota Bandung tidak henti-hentinya dikunjungi oleh para wisatawan. Apakah karena keindahan kotanya, keramahan orang-orangnya atau…Bisa saja karena nuansa seni yang menyelubungi kota pewaris gaya Art Déco ini. Seni yang membawa kesejukkan, seperti yang pernah diungkapkan oleh Pablo Picasso, “Art washes away from the soul, the dust of everday life.”

     

    Untuk urusan seni, selain kota Jogjakarta, Bandung memang dikenal sebagai kota kreatif dan pusat perkembangan seni di Indonesia. Bahkan di dunia seni rupa dikenal istilah “Kubu Bandung” dan “Kubu Jogja,” sebuah dikotomi tentang mahzab seni yang berkembang di tanah air. Istilah ini sesekali masih muncul bahkan hingga sekarang.
    Meskipun demikian, hal ini sebenarnya membuktikan bahwa dua kota tersebut memang memiliki intensitas yang tinggi terhadap seni. Hal itu tak lepas dari dukungan dua sekolah seni tertua di Indonesia, ASRI (sekarang ISI) di Jogjakarta dan FSRD ITB di Bandung.
    Bukan hanya di seni rupa saja. Beberapa dekade ke belakang, Bandung juga dikenal sebagai barometer musik tanah air. Fakta lain tentang aktivitas seni di kota Bandung adalah ketika kota ini bersama dengan Jakarta dan Medan menjadi pusat pergerakan dan perkembangan komik atau CerGam – Cerita Gambar Indonesia pada kurun waktu tahun 60an hingga 70an.
    bandung Arsitektur
    bandung Arsitektur: Gedung Merdeka yang pada masa kolonial Belanda memiliki nama Sociëteit Concordia.
    Gairah seni di kota Bandung pada dasarnya sudah dimulai sejak era kolonial. Sejak dulu, kota ini memang memiliki peran yang cukup berbeda dengan kota lainnya. Hal ini terbukti dengan banyaknya pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah Hindia Belanda ketika itu. Meskipun demikian, alih-alih membentuknya sebagai kota politik dan pemerintahan seperti di Batavia. Bandung cenderung dirancang sebagai kota yang bersifat rekreatif dan kultural.

     

    Hal ini terlihat jelas dengan dibangunnya gedung Sociëteit Concordia yang berfungsi sebagai tempat berkumpulnya masyarakat elite Hindia Belanda pada masa itu. Persis seperti fungsi Salon untuk masyarakat elite Perancis. Seiring waktu, juga trend visual yang berganti di Eropa. Gedung itu pun mengalami renovasi di tahun 20an. Gedung yang semula memiliki rancangan sederhana. Menjelma menjadi gedung yang mewah dan artistik.
    Dengan sentuhan desain Art Déco sebagai warna utamanya. Gaya Art Déco bukan hanya digunakan pada Sociëteit Concordia saja. Tetapi juga pada hampir seluruh bangunan-bangunan penting serta pada hunian-hunian pembesar di Bandung ketika itu. Walhasil, Art Déco bukan hanya merubah hampir keseluruhan wajah kota Bandung. Tetapi juga menjadikan kota ini sebagai kota yang paling trendy dan artistik ketika itu. Bahkan Bandung disetarakan dengan keindahan kota Paris. Oleh karenanya tak heran jika akhirnya julukan Parijs Van Java tersemat kemudian pada kota ini.
    bandung Arsitektur
    bandung Arsitektur: Poster Pameran Internasional Seni Dekoratif dan Industri Modern di Paris tahun 1925
    Art Déco sendiri sebenarnya merupakan salah satu gaya seni yang melingkupi banyak bidang, termasuk arsitektur, desain interior, furnitur, fashion dan banyak lainnya. Gaya ini muncul di Perancis tepat sebelum pecahnya Perang Dunia pertama.

    Halaman

    Tinggalkan Balasan