“Taman yang Indah” setidaknya itulah terjemahan bebas dari “Taman Ayun Bali”. Sebuah pura suci bersejarah yang terletak di desa Mengwi, kabupaten Badung, Bali. Lokasinya yang agak menyendiri, menjauh dari kebisingan kota membuat pura ini tampil sangat asri dan elok.

Meskipun letaknya bukan di tengah-tengah pusat kota, Pura Taman Ayun ini menjadi salah satu icon wisata bali.  Letaknya berada pada jalur utama pariwisata yang menuju ke daerah wisata dataran tinggi Bedugul dan Singaraja.
Pura Taman Ayun yang merupakan salah satu warisan dari dinasti kerajaan Gelgel ini dapat dikatakan memiliki nilai historis yang unik. Pembangunan pura yang digagas oleh Ida Tjokorda Sakti Blambangan atau I Gusti Agung Ngurah Made Agung pada awal abad ke-18 M ini memiliki sebuah konsep pemersatu. Pada masa itu, pura ini difungsikan sebagai tempat berkumpulnya masyarakat Mengwi yang memiliki berbagai latar belakang yang berbeda, baik itu kasta maupun aliran keagamaan untuk bersatu dan menghadap raja. Persatuan dari berbagai keragaman pun bukan hanya dijunjung sebagai konsep pura ini saja, tetapi juga terlihat jelas dari arsitekturnya yang merupakan gabungan dari gaya Majapahit, Cina dan Bali.taman ayun
Selain fungsinya sebagai tempat pemersatu dalam tataran kehidupan sosial masyarakat Mengwi, pura Taman Ayun pun memiliki konsepsi religi tersendiri. Sebagai perwujudan Padma Mandala dalam konsepsi Hindu, Taman Ayun adalah sebuah kemudahan bagi masyarakat Hindu Mengwi. Mereka yang ingin sembahyang di pura-pura besar seperti pura Besakih atau Batukaru tetapi tidak mampu, cukup sembahyang saja di Taman Ayun. Kemudahan-kemudahan ini dihadirkan karena pada zaman dahulu, sangat sulit bagi masyarakat Mengwi untuk dapat mengunjungi pura-pura besar di pulau Bali.

 

Berdasarkan kosmologi Hindu Bali, pura Taman Ayun ini terbagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama adalah Swahloka yang merupakan tempat pemujaan kepada para Dewa dan leluhur.bagian kedua Bhurloka atau Madya Mandala sebagai tempat manusia biasa berada. Bagian ke tiga adalah Bhuwahloka atau Nista Mandala yang merupakan sebuah representasi dari sebuah tatanan sosial. Pura Taman Ayun pun setidaknya memiliki 29 pelinggih dengan berbagai bentuk yang masing-masing mengarah pada Gunung Agung sebagai pusat Padma-nya (teratai). Berdasarkan konsepsi inilah mengapa Taman Ayun disebut sebagai perwujudan Padma Mandala.

 

Sebuah tatanan sosial masyarakat tentu saja tidak dapat terlepas dari unsur-unsur ekonomi. Taman Ayun yang memang hadir sebagai kemudahan masyarakat Mengwi pun tidak melupakan faktor ekonomi ini. Jika anda berkunjung ke pura suci ini, pasti anda akan melihat parit yang mengelilingi bangunan utama pura. Kehadiran parit inilah yang kemudian menjadi fungsi ekonomis pura terhadap kehidupan masyarakat Mengwi yang termasuk ke dalam tipe agraris. Selain memperindah bangunan utama pura, parit ini pun difungsikan sebagai sumber yang mengairi subak-subak pada areal persawahan masyarakat sekitar pura. Selain memenuhi fungsi ekonomis, parit pada pura Taman Ayun ini pun merupakan simbol perpaduan antara Patirtaan dan pura. Dalam konsepsi Hindu Bali yang lebih mendalam, perpaduan tersebut merupakan simbol harmonisasi antara Samudera dan Daratan.taman ayun 2
Pura Taman Ayun dengan berbagai kandungan konsepsi dan filosofi yang lengkap didalamnya tentu saja bukan hanya sebatas warisan bangunan suci bersejarah tetapi lebih dari itu, pura ini pun merupakan salah satu tauladan bagi bangsa ini. Taman Ayun secara tidak langsung memberikan sebuah contoh yang mengajarkan bahwa dalam sebuah bangunan, seharusnya memiliki berbagai fungsi yang berguna dan memudahkan bagi tatanan sosial masyarakat dan lingkungan di sekitarnya. (pf)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here