Seni & Dunia Digital

0

Berabad-abad yang lalu, manusia mengalami sebuah peristiwa yang kelak menjadi awal dari sebuah cara hidup yang baru. Sejarah mencatat peristiwa itu dengan nama ‘Revolusi Industri.’ Gempuran mesin-mesin produksi kala itu mendobrak kebiasaan-kebiasaan lama dan kenyamanan manusia yang telah bertahan berabad-abad lamanya. 

Namun demikian, mesin-mesin itu dengan seketika mampu merebut atensi yang cukup besar. Dengan mesin-mesin itu, manusia kemudian merasakan kenyamanan berbeda yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Waktu produksi yang pendek, keberlimpahan variasi produk serta berbagai kemudahan menjadi sedikit dari banyak kenyamanan yang dihasilkan oleh ‘Revolusi Industri.’
Sebuah perubahan yang diawali oleh ‘Revolusi Industri’ nampaknya bukan hanya membawa berbagai lompatan dan kemajuan dalam bidang teknologi dan industri. Tanpa disadari, di sisi yang lain ia perlahan mengikis dimensi sosio-kultur pada masyarakat di masa itu. Sayangnya hanya segelintir orang yang menyadarinya.
Adalah William Morris yang kemudian bersama para koleganya menggagas sebuah gerakan revolusioner bernama ‘Art & Craft Movement.’ Sebuah gerakan yang salah satunya mengkampanyekan ‘perlawanan’ terhadap gempuran produk-produk mesin (pabrikan) yang dianggap memperburuk kualitas hidup dan merusak dimensi sosial kultural masyarakat ketika itu. 

 

Gerakan ‘Art & Craft’ tersebut bukan hanya sekedar letupan kecil yang kemudian hilang. Sebaliknya ia menjadi awal dari gerakan lanjutan yang massif sekaligus menjadi landasan bagi tumbuhnya seni dalam bentuk akademik yang formal. Bentuk yang kemudian menjadi benteng konservasi seni di masa-masa selanjutnya. 
Hal yang serupa bisa saja dibaca di hari ini. ‘Revolusi Industri’ bertransformasi menjadi ‘Revolusi Digital.’ Gempuran mesin-mesin fisik beralih menjadi banjiran platform-platform digital yang bukan hanya mempermudah tetapi juga membawa manusia pada bentuk kenyamanan yang baru. 
Dalam konteks seni, digital menjadi sebuah medium baru layaknya hutan perawan yang meminta untuk dijelajahi. Dengan berbagai kemudahan yang ditawarkannya, media digital mendorong suatu jenis produktifitas yang luar biasa. Hal ini tentu saja bisa dilihat positif, namun di sisi lain, sifat reproduktif dari media digital juga harus dilihat setidaknya sebagai suatu ancaman tertentu. Dengan kemudahan memproduksi dan mereproduksi, paling tidak hal tersebut akan menggerus faktor eksklusifitas dan kualitas dari sebuah karya seni. Setidaknya pandangan seperti ini, lebih banyak muncul di awal-awal merebaknya media digital sebagai sebagai medium berkarya dan mungkin saja masih bertahan dalam pandangan para seniman dan desainer konservatif.
Hari ini semuanya berbeda, alih-alih menentang dengan keras, sekarang ini banyak seniman dan desainer yang berhasil memanfaatkan media digital dengan sangat cerdas sebagai salah satu strategi dalam proses berkarya mereka. Berbagai istilah seperti Web Art, Digital Art, Digital Painting, dan lain sebagainya lahir sebagai bentuk jembatan antara dunia seni yang serba ekspresif, manual dan humanis dengan dunia digital yang kaku, serba otomatis dan sophisticated. Istilah-istilah itu pun sekaligus menjadi legitimasi tersendiri bagi dunia digital sebagai satu bentuk dimensi kehidupan lain yang lengkap. Dengan bertumbuhnya entitas-entitas seni di dalam dunia digital, hal ini seolah membuktikan bahwa di dalam dunia yang dibangun oleh konstruksi kode-kode yang dingin dan kaku sekali pun, entitas sehalus, sehangat dan se-manusiawi seni dapat lahir di sana. 

 

Fenomena ini bersifat universal, sudah terjadi hampir di seluruh bangsa, setidaknya di negara-negara yang menyediakan infrastruktur internet untuk rakyatnya, termasuk juga di Indonesia. Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah…bagaimana dengan infrastruktur produksi-konsumsinya? Jika sudah banyak orang yang melibatkan diri sebagai pelaku digital art, lalu kemudian bagaimana dengan output produknya? Apa yang bisa konsumen dapatkan dari outpun produknya? Apa sensasi yang ditawarkan? Apa esensi yang membedakan seni berbasis digital dengan seni konvensional yang sudah hidup selama berabad-abad? Berapa harga yang harus dibayar konsumen? Bagaimana cara perhitungan Harga Pokok Produksinya? Dan banyak lagi pertanyaan turunan yang akan muncul kemudian…
Tentu saja pertanyaan-pertanyaan itu bukanlah tanggung jawab siapapun untuk menjawabnya. Jawaban-jawabannya akan muncul seiring waktu dan konsistensi dari digital art itu sendiri. Tanpa kita sadari, pertanyaan-pertanyaan yang sama pun masih muncul pada dunia kerajinan di level lokal. Masalahnya masih klasik, terlalu banyak pelaku kerajinan yang hanya berada di level produksi, sehingga urusan manajemen, promosi, marketing bahkan hingga support after sale sama sekali tidak ada yang menyentuh. Apakah hal ini akan terjadi pada dunia digital art? Tentu saja tidak ada yang tahu, karena umurnya yang relatif lebih muda dibanding dunia kerajinan. 
Digital Art sendiri di Indonesia masih berada pada fase awal, di mana para pelaku masih lebih banyak tertarik dan melibatkan diri dalam level produksi saja. Belum banyak pelaku Digital Art yang mau terjun dalam level post produksi apalagi hingga tingkatan After Sale. Hal ini dibuktikan dengan minimnya bahkan nyaris tidak ada platform-platform digital lokal yang berada pada tingkatan tersebut. Di luar negeri kita tahu ada beberapa platform besar seperti DeviantArt, Behance, CrowdStack atau beberapa platform Micro Stock lain yang sudah lama berani menyentuh dan bermain dengan dunia seni dan desain digital pada level yang lebih jauh. Lalu bagaimana dengan di Indonesia? 
Nampaknya kita di Indonesia harus lebih banyak membagi peran, rasanya tidak mungkin semua orang menjadi seniman atau desainer digital. Seperti halnya ekosistem bisnis pada seni konvensional, seniman tidak akan berarti tanpa adanya galerist dan begitu sebaliknya. Seorang kolektor juga tidak akan disebut sebagai kolektor jika tidak ada karya seni yang dikoleksinya, dan karya seni tentu saja, tidak akan hadir tanpa peran dari seniman itu sendiri. Begitu pun dengan peran kurator, museum, konservatoris dan lain sebagainya…

 

Panji Firman

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *