R.A Kardinah dan Seni Rupa Indonesia

r.a Kardinah

Persentuhan R.A Kardinah dengan seni lukis modern dapat dipandang sebagai suatu kesadaran untuk menjelajahi aktivitas berkeseniannya ke arah yang lain

Posisi R.A Kardinah dalam peta sejarah seni rupa Indonesia tentu saja jauh berbeda dengan Raden Saleh. Baik itu dari segi tehnik maupun dari sisi intensitas kekaryaannya. Dari hal ini sudah barang tentu dua tokoh ini tidak dapat diperbandingkan. Akan tetapi bukan berarti beliau tidak memilki kualitas dan intensitas dari sisi kekaryaan. Wanita yang juga merupakan adik dari R.M.P Sosrokartono ini sebenarnya sudah bersentuhan dengan seni rupa modern.
Pada beberapa catatan sejarah dikatakan bahwa Ia dan kakaknya, R.A Kartini memang melukis. Akan tetapi seberapa intens mereka melukis, atau seberapa dalam subyek lukisannya? Belum ada catatan khusus tentang itu. Meskipun demikian, harus diakui pula bahwa kedua tokoh ini merupakan generasi pertama pelukis perempuan di Indonesia.
Selain itu, berdasarkan lini masa, hanya beliau dan R.A Kartini-lah pribumi yang mempraktikkan seni rupa modern pasca Raden Saleh. Hal yang kemudian menjadi penting adalah, bagaimana persentuhan Kardinah dan Kartini dengan seni lukis modern dapat dipandang sebagai suatu kesadaran untuk menjelajahi aktivitas berkesenian mereka ke arah yang lain, dalam hal ini, ke arah seni rupa modern.
one of the documentation of R.A Kardinah
R.A Kardinah
Sementara itu, catatan sejarah lainnya justru lebih banyak menceritakan intensitas aktivitas membatik R.A Kardinah bersama kedua saudarinya. Aktivitas yang sering mereka lakukan di serambi belakang rumahnya di Kadipaten Jepara. Bukan hanya sekedar intens, kegiatan membatik yang mereka lakukan pada waktu itu, pada dasarnya cukup radikal.
Pada masa itu, proses membatik, umumnya dilakukan untuk suatu seremoni khusus, sementara batik-batik yang mereka hasilkan bukanlah diperuntukkan pada tradisi itu. R.A Kardinah dan kedua saudarinya justru membuat batik untuk kemudian dipakainya sendiri dalam aktivitas keseharian.
Semangat itu seharusnya dapat dilihat bukan hanya dari sisi pamernya saja, tetapi juga dari bagaimana upaya mereka untuk membuka keran tradisi batik yang semula bersifat elitis dan tertutup menjadi terbuka dan dapat dinikmati oleh masyarakat luas. Tindakan-tindakan ini pun dapat pula dilihat sebagai cikal-bakal proses pelestarian tradisi batik itu sendiri.
Soga - red as one of the characteristic Lasem's Batik
Batik Lasem dengan warna merah (Soga) yang menjadi ciri khasnya
Setelah menikah dan sempat berpindah-pindah kota, dari Pemalang ke Tegal, R.A Kardinah tetap konsisten dalam berkesenian. Belum ada catatan khusus tentang aktivitasnya dalam melukis, tetapi peranannya dalam membatik semakin kuat. Menurut Sitisoemandoro Soeroto dalam bukunya, “Kartini; Sebuah Biografi (1982), R.A Kardinah sempat menerbitkan dua buku, tentang membatik dan memasak.
Aktivitas lainnya selama di Tegal pun cukup menarik. Beliau terlibat sebagai salah satu pendiri sekolah Wismo Pranowo dan menjadi salah satu pengelola sekaligus pengajarnya. Di sekolah itu, ia mengajar batik dengan kemampuan khas dalam penguasaan Soga – warna merah darah pada batik dan Wedel – warna hitam untuk batik.
Tak cukup dengan mengajar saja, bersama suami dan rekan-rekan gurunya, R.A Kardinah pun sering mengadakan pameran di pasar malam alun-alun Tegal. Pameran yang cukup ambisius pun sempat digelarnya bersama Perkumpulan Kesenian Hindia cabang Tegal. Menurut Frits. G.P Jaquet dalam “Surat-surat adik R.A Kartini,” R.A Kardinah bersama kawan-kawannya itu berpameran di Pekalongan dan Cirebon. Dua kota yang notabene dikenal sebagai penghasil batik-batik yang indah ketika itu.
Intensitas berkesenian serta sikap militansi R.A Kardinah terhadap batik memang begitu tinggi, terutama semasa hidupnya di Tegal. Pengaruhnya terhadap perkembangan batik di Tegal bukan hanya sebatas edukasi dan promosi saja. Lebih dari itu, perlahan-lahan gaya batik Lasem dengan corak Soga dan Wedel yang dibawanya dari Jepara dapat dengan baik berakulturasi dengan corak batik klasik Tegalan yang ketika itu masih didominasi warna hijau dan coklat, sebagai warisan dari batik keraton Mataram.
Selain itu, pengaruh R.A Kardinah pun terlihat dari bagaimana para pembatik lokal Tegal mulai mempergunakan motif-motif flora dan fauna pada karya-karyanya. Kombinasi-kombinasi antara corak Lasem dan Tegal klasik yang digagas oleh R.A Kardinah kemudian menjadi ciri khas batik Tegal yang hari ini kita kenal.
one of the batik motif from Tegal
Salah satu motif batik Tegal
Jika melihat pada aspek kekaryannya saja, mungkin akan sangat sulit untuk melihat posisi R.A Kardinah dalam peta sejarah seni rupa Indonesia. Akan tetapi, jika kita melihat dengan sudut pandang lebih luas, maka akan sangat terasa bagaimana pemikiran, semangat serta tindakan R. A Kardinah begitu progresif dan radikal terhadap seni dan masyarakat pada masa itu.
Gagasannya dalam menjelajahi berbagai kemungkinan arah lain bagi seni, memberikan warisan yang luar biasa. Meskipun pada akhirnya tidak menggunakan media dan institusi seni modern, namun aktivitas berkeseniannya justru berperan sebagai pembuka jalan bagi tumbuhnya seni rupa di Indonesia di masa-masa selanjutnya.
Melihat perjalanan berkeseniannya, rasanya hal itulah yang kemudian harus dipandang sebagai alasan yang tepat mengapa R.A Kardinah mesti diteletakkan pada posisi penting pada peta sejarah seni rupa Indonesia.

Sumber:

www.tirto.id
www.infotegal.com
www.liputan6.com
Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel lainnya