Alfred Stieglitz, Piktorialisme dan Seni Modern

    333

    Alfred Stieglitz dan kawan-kawannya mencoba mempraktikkan fotografi lain dari yang lain. Mereka menghindari aktivitas memotret lebih dari sekedar merekam realita saja. Mereka mencoba memanipulasi realita itu dengan berbagai cara.

    Jalanan itu tampak temaram, tertutupi oleh guyuran salju yang jatuh tanpa terburu-buru. Tak ada aspal maupun deru mesin-mesin, yang ada hanya derap kaki-kaki kuda dan roda pedati yang berdenyit-denyit. Semuanya tampak lengang, para pedestrian pun berjalan tanpa tergesa-gesa. Gambaran itu adalah citraan yang ditampilan oleh Alfred Stieglitz pada karya yang berjudul “Winter on Fifth Avenue.” Salah satu karya foto yang dihasilkan di periode-periode awal berkarirnya sebagai fotografer.
    Karya foto ini lahir di zaman di mana fotografi masih dianggap sebagai salah satu teknologi tercanggih kala itu, tepatnya di akhir abad ke sembilan belas masehi. Tampilannya cenderung samar, dan jarang sekali ditemukan foto dengan fokus yang sangat tajam pada obyek seperti kelak yang ditampilkan oleh Modernism Photography. Subyeknya pun masih berada pada wilayah perekaman realita; termasuk momen dan fakta yang ditemukan oleh si fotografer.

    “Fotografi mampu memindahkan realita yang ada menjadi satu realita baru. Bukan hanya itu, fotografi juga mampu memperbanyak realita tersebut sebanyak apa pun. Semuanya itu dilakukan dengan sangat teknis dan melalui proses-proses yang ilmiah.”
    Winter – Fifth Avenue, Alfred Stieglitz, 1893.
    Cara kerja kamera tentu saja tidak terlepas dari  perilaku cahaya yang khas dalam memantul dan membias. Proses cetak foto dilakukan secara kimiawi dengan bahan-bahan kimia khusus. Semua prosesnya tampak teratur dan terukur. Dengan kemampuannya itu, tak heran fotografi pada masa itu dianggap sebagai suatu ‘keajaiban’ ilmiah – science.
    Akan tetapi tidak semua orang tunduk pada status fotografi semacam itu. Mereka percaya bahwa fotografi lebih dari sekedar penemuan sains terbesar . Untuk itu, orang-orang seperti Alfred Stieglitz, Clarence White, Robert Demachy atau juga Edward Steichen, mereka bekerja dan berkarya menembus batas-batas yang ditetapkan dunia untuk fotografi.
    Orang-orang itu percaya bahwa kamera memang hanya sebuah alat ilmiah belaka. tetapi fotografi layak dianggap lebih. Fotografi patut untuk dipandang sebagai sebuah medium artistik seni. Mengapa seni? karena seni adalah satu satu parameter tertinggi kebudayaan dari suatu bangsa. Dengan seni, suatu bangsa dipandang beradab dan berbudaya.
    alfred stieglitz self portrait
    Alfred Stieglitz self portrait
    Di masa itu, seni lukis masih menjadi suatu patokan tertinggi dari seni rupa. Daya ekspresi dan imajinatifnya belum ada yang dapat menandingi. Salah satu cara agar fotografi dapat dilirik oleh publik seni adalah dengan meminjam daya dan kemapuan seni lukis tersebut. Hingga bisa membuktikan bahwa fotografi pun layak untuk disandingkan.
    Untuk itu, Alfred Stieglitz dan kawan-kawannya mencoba mempraktikkan fotografi lain dari yang lain. Mereka menghindari aktivitas memotret lebih dari sekedar merekam realita saja. Mereka mencoba memanipulasi realita itu dengan berbagai cara agar dapat menunjukkan aspek ekspresi personal dan menampilkan sisi imajinatif dari fotografi. Dengan karakter-karakter itu, lahir kemudian piktorialisme sebagai gerakan dan gaya artistik dari fotografi.

    Dari situ lahir pula kredo “making picture not taking picture” yang bahkan hingga hari ini masih bergaung di dunia fotografi. Piktorialisme bukan hanya hadir sebagai gerakan dan gaya artistik belaka, ia berjasa pula mempromosikan fotografi sebagai salah satu medium artistik seni. Seperti yang dicita-citakan oleh Stieglitz dan kawan-kawannya. Namun tidak berhenti di situ saja para piktorialis seperti Stieglitz ternyata menyiapkan sesuatu yang lebih besar dibandingkan hanya sebatas pengakuan saja.
    Seiring dengan diakuinya fotografi dalam seni, di sisi yang lain, seni pun berubah ke arah yang baru. Seni kemudian bergerak ke arah yang disebut sebagai seni modern – Modern Art. Hal itu tentu saja disadari betul oleh para seniman ketika itu, termasuk oleh Alfred Stieglitz. Ia kemudian tidak hanya sekedar memotret dan berkarya. Stieglitz pun menulis berbagai artikel yang membombardir masyarakat seni ketika itu tentang fotografi dan seni. Tidak hanya itu, ia pun membangun sebuah galeri yang mempromosikan fotografi dan seni modern yang dianggap sebagai seni avant-garde pada masanya.
    Apa yang dilakukannya itu, pada dasarnya adalah membangun sebuah kerangka konstruksi produksi-konsumsi untuk industri seni modern. Jadi tidak hanya memikirkan sebatas produksi karya, Stieglitz pun merancang manajemen dan fondasi dari industri seni itu sendiri. Perjuangannya tidak sia-sia, karena beberapa waktu kemudian, apa yang dipromosikan di galerinya itu, kemudian dibeli oleh salah satu galeri besar di Amerika ketika itu.
    Alfred Stieglitz dan kawan-kawan senimannyakelompok seniman di tahun 1912, kiri ke kanan: Paul Haviland, Abraham Walkowitz, Katharine Rhoades, Emily Stieglitz, Agnes Meyer, Alfred Stieglitz, John Barret Kerfoot, John Marin
    Dan transaksi itu adalah transaksi bersejarah untuk fotografi dan seni modern. Karena itulah kali pertama karya-karya fotografi dikoleksi oleh museum dalam jumlah dan harga yang dapat dikatakan sudah setara dengan karya lukisan. Untuk pencapaiannya itu, tak heran jika Stieglitz kemudian dianggap sebagai salah satu figur terpenting dalam seni modern.

    Apa yang dibangun oleh Alfred Stieglitz terus berkembang dan menjadi satu institusi besar yang bahkan terus membesar bahkan hingga hari ini. Seni modern menjadi satu entitas yang tidak tergantikan. Beberapa pakar berpendapat bahwa meskipun di tahun 60-70an banyak yang mengklaim periode sudah berganti ke arah post-modern, sekaligus menunjukkan kegagalan seni modern pasca perang dunia ke-2, tetapi segala macam infrastrukturnya masih menggunakan seni modern. Hal itu secara tidak langsung menunjukkan bahwa seni modern memang bagaimana pun tidak tergantikan.
    Meskipun demikian, hal yang berbeda justru terjadi di fotografi. Dengan perkembangan teknologi digital sekarang ini, membuat fotografi sangat mudah untuk dihasilkan. Orang-orang dapat dengan mudah menghasilkan foto yang bagus dan baik, bahkan dengan berbagai gaya dan genre. Proses cetaknya pun dapat dihasilkan hanya dengan hitungan jam bahkan menit. Dengan kondisi seperti itu, muncul sebuah persoalan baru, bagaimana selanjutnya posisi fotografi di dunia seni hari ini?

    LEAVE A REPLY

    Please enter your comment!
    Please enter your name here