Lima Proses Cetak Foto Alternatif yang Perlu Kamu Coba

Proses cetak foto itu, kita kenal hari ini sebagai Alternative Photographic Processes. Tehnik cetak ini bukanlah tehnik biasa, ia menghasilkan cetakan foto yang luar biasa dan mengejutkan.

Siapa bilang fotografi hanya itu-itu saja. Fotografi dengan sejarah panjangnya memiliki daya jelajah yang sangat tinggi. Fotografi bisa sangat ekspresif seperti yang ditunjukkan oleh gerakan Piktorialisme. Fotografi juga bisa menawarkan sisi yang mistik dan misterius ala Modernism Photography. Daya jelajah fotografi bahkan sekarang ini jauh lebih luas dan lebih mudah.
Dengan bantuan berbagai aplikasi, kita dapat menghasilkan fotografi sesuai keinginan kita dalam waktu yang sangat singkat. Tetapi tahukah anda, bahwa di masa-masa awalnya dulu, untuk mencapai hasil yang maksimal, para pionir fotografer harus berjibaku dulu dengan berbagai tehnik dan material. Prosesnya pun memakan waktu yang cukup lama. Dan hasilnya, mereka pun menemukan berbagai tehnik cetak lain dengan hasil-hasil yang sangat mengagumkan. Bahkan salah satunya menjadi prinsip dasar dari printer yang sering kita gunakan hari ini.
 
Proses cetak foto itu, kita kenal hari ini sebagai Alternative Photographic Processes. Tehnik cetak ini bukanlah tehnik biasa, ia menghasilkan cetakan foto yang luar biasa dan mengejutkan. Berikut ini NKNSTD akan membahas lima proses cetak foto alternatif yang tehnik dan bahan-bahannya cukup mudah untuk dipelajari.

Salt Printing

salt printing sebagai salah satu proses cetak foto alternatifSalah satu hasil Salt Printing karya Henry William Fox Talbott.
Proses cetak foto ini adalah salah satu tehnik foto paling tua di sepanjang sejarah fotografi. Tehnik ini ditemukan oleh William Henry Fox Talbott di sekitar tahun 1830an. Dan tehnik ini merupakan tehnik umum sebelum nantinya ditemukan proses  cetak negatif yang biasa kita temukan di studio-studio foto konvensional sebelum era fotografi digital.
 

Bahan-bahan yang dibutuhkan:

a. air (air yang baik digunakan adalah air yang sudah disuling, namun gampangnya, bisa pakai air mineral yang banyak dijual di pasaran).
b. garam laut.
c. Kertas bebas asam (bisa dicari di toko-toko art supply, dan lebih baik jika mengandung 100% katun, sehingga kertas akan tahan ketika melalui proses developing).
d. Perak Nitrat – Silver Nitrate (Bahan ini bisa didapatkan di toko kimia, harganya cukup mahal, tetapi proses ini hanya membutuhkan sekitar 10 gram saja, untuk sekali cetak).
e. Sodium Thiosulfate yang digunakan sebagai fixer atau perekat (Bisa didapatkan di toko-toko kimia).
f. Asam Sitrat – Citric Acid (bisa didapatkan di toko-toko kimia).
g. Negatif foto (negatif untuk proses ini bisa dibuat dengan mencetak foto digital setelah di-invert di photoshop atau aplikasi lainnya menjadi negatif di kertas OHP atau kertas kalkir).
h. Papan dan kaca seukuran foto yang akan dicetak. (alat ini akan digunakan pada saat proses penyinaran – exposing).
i. Baki atau nampan, yang bisa menampung air dan dengan ukuran sebesar foto yang akan dicetak
j. Dua buah botol berukuran 50-100 ml.
k. Kuas.
kertas yang cocok digunakan pada proses cetak foto alternatif
Beberapa gambar kertas yang dapat digunakan dalam proses cetak foto alternatif.
Beberapa jenis kertas yang dapat digunakan dalam proses cetak foto alternatif.
Tahap pertama, buat larutan 20 gram garam laut dengan 1 liter air sulingan. Tuangkan ke dalam baki/nampan dan masukan kertas bebas asam ke dalamnya. Ujung-ujung kertas kemudian akan terpilin, setelah itu angkat kertas dan jemur kertas hingga kering.
Tahap kedua, buat larutan dari 10 gram perak nitrat dan 45-50 ml air sulingan, kemudian masukkan ke dalam botol kosong. Lalu buat lagi larutan dari 5 gram asam sitrat dan 45-50 ml ml air sulingan dan tempatkan ke dalam botol. Proses ini harus dilakukan di dalam ruangan gelap, atau dengan cahaya yang temaram. Lakukan dengan menggunakan sarung tangan, sehingga kulit kita tidak terpapar oleh zat-zat kimia.
Tahap ketiga, Masih di dalam ruangan gelap atau temaram, sapukan larutan perak nitrat ke atas kertas yang sudah kering menggunakan kuas. Lakukan secara perlahan hingga merata. Dan kemudian biarkan kertas hingga sepenuhnya kering.
Tahap keempat, Letakkan kertas yang sudah kering ke atas papan, dengan posisi permukaan kertas yang sudah dilapisi larutan perak nitrat menghadap ke atas. Letakkan negatif foto di atas kertas tersebut. Eratkan kertas dan negatif foto dengan kaca. Lakukan perlahan hingga keduanya rapat tanpa ada lipatan-lipatan yang tidak perlu. Selanjutnya Letakkan di bawah sinar matahari, atau bisa juga diganti oleh lampu halogen. Proses penyinaran – exposing oleh sinar akan membuat kertas berwarna gelap.
Tahap Kelima, Setelah kertas berubah warna, bawa semuanya ke ruang gelap kembali, pisahkan dari kaca, papan dan kertas negatif. Cuci kertas di dalam baki/nampan hingga air buangannya menjadi jernih. Setelah itu, rendam kembali kertas di larutan Sodium Thiosulfate (50 gram dengan 1 liter air) selama 10 sampai 15 menit. Selanjutnya cuci kembali kertas dan kemudian jemur hingga kering. Pada cetakan akhir, gambar akan tampak lebih tajam dan seolah tertanam di dalam kertas.

Photogram

Photogram sebagal salah satu proses cetak foto alternatifSalah satu hasil Photogram karya Man Ray.
Proses ini adalah tehnik fotografi tanpa kamera. Menarik bukan? Photogram adalah tehnik tradisional dari fotografi. Tehnik ini pun merupakan tehnik yang pertama kali dicoba oleh Henry William Fox Talbott untuk menciptakan cetakan foto yang permanen dan kuat. Namun tehnik ini kemudian lebih banyak dikembangkan oleh Man-Ray, salah satu seniman legendaris yang menggunakan fotografi sebagai medium berkaryanya.
Material yang digunakan untuk Photogram di artikel ini cukup berbeda dengan yang dibutuhkan pada tehnik aslinya. Karena keterbatasan material yang sulit ditemukan di zaman sekarang ini, tetapi jangan khawatir dengan material-material lain, kita juga tetap bisa menghasilkan karya foto dari tehnik Photogram.

Bahan-bahan yang dibutuhkan:

a. air (air yang baik digunakan adalah air yang sudah disuling, namun gampangnya, bisa pakai air mineral yang banyak dijual di pasaran).
b. Kertas bebas asam (bisa dicari di toko-toko art supply, dan lebih baik jika mengandung 100% katun, sehingga kertas akan tahan ketika melalui proses developing).
c. Materi/Larutan Sensitif Cahaya – Photo Sensitive Solution, kita bisa menggunakan Potassium Bichromate yang banyak tersedia di toko-toko penyedia alat-alat sablon atau Ammonium Bichromate yang bisa didapatkan di toko-toko kimia. Namun disarankan dan lebih mudah untuk menggunakan Potassium Bichromate karena sudah banyak dijual dalam bentuk cairan.
d. Photo Emulsion, bisa didapatkan di toko-toko penyedia alat-alat sablon.
e. Pigmen warna, bisa berbentuk cat akrilik, cat air dengan pigmen yang tinggi atau Gouache dalam bentuk serbuk, semuanya bisa didapatkan di toko-toko art supply.
f. Benda-benda sebagai pengganti negatif foto, bisa benda apa pun, yang penting tidak lebih besar dari ukuran kertas yang kita gunakan untuk cetakan foto nantinya.
g. Baki atau nampan, yang bisa menampung air dan dengan ukuran sebesar foto yang akan dicetak.
h. Kuas
i. Lampu Halogen (opsional)
j. Wadah kosong, bisa mangkuk plastik atau sejenisnya.
k. Papan dan kaca seukuran foto yang akan dicetak. (alat ini akan digunakan pada saat proses penyinaran – exposing).
cat air untuk proses cetak foto alternatifCat air merek Winsor and Newton umumnya cocok untuk digunakan dalam proses cetak foto alternatif.
Tahap Pertama, siapkan baki/nampan dengan berisi air sulingan, kemudian rendam kertas hingga ujung-ujungnya terpilin. Angkat kertas dan jemur hingga kering.
Tahap Kedua, Buat larutan dengan mencampurkan Potassium Bichromate/Ammonium Bichromate dalam bentuk cair dengan Photo Emulsion dan Pigmen warna (pilih salah satu warna saja). Buat larutan di dalam wadah kosong. Khusus untuk warna, Tiap-tiap warna memiliki waktu penyinaran – exposing yang berbeda-beda dan dipengaruhi juga oleh sumber cahaya.
Tahap Ketiga, Sapukan larutan tadi dengan kuas secara perlahan dan merata di atas kertas yang sudah kering. Lakukan di dalam ruang gelap atau dengan cahaya temaram. Setelah itu, biarkan hingga kering.
Tahap Keempat, Letakkan kertas di atas papan, jangan lupa permukaan yang sudah dilapisi larutan tadi harus menghadap ke atas. Kemudian komposisikan benda-benda yang sudah disiapkan sesuai dengan keinginan. Jika benda bersifat lentur atau bukan benda tiga dimensional yang kaku, maka letakkan kaca untuk menghimpit benda dengan kertas. Jika benda bersifat tiga dimensional kaku, maka biarkan saja.
Tahap Kelima, Sinari kertas dengan benda-benda tadi dengan sumber cahaya, bisa cahaya matahari atau lampu Halogen dengan konsistensi cahaya yang terjaga. Waktu penyinaran berbeda-beda untuk tiap-tiap warna, misalnya pigmen biru dengan sumber cahaya lampu halogen, membutuhkan waktu sekitar 3 sampai 5 menit. Warna merah atau magenta dengan cahaya lampu Halogen bisa memakan waktu sekitar 9 menit.
Tahap Keenam, Pisahkan kertas dari benda-benda yang lainnya, cuci di baki atau nampan, hingga gambar dari komposisi benda-benda tadi muncul, lakukan terus hingga air buangan menjadi jernih. Di awal-awal pencucian, air akan berwarna kuning karena membuang sisa-sisa Potassium Bichromate/Ammonium Bichromate yang tidak terpapar cahaya. Setelah itu, jemur kertas hingga kering dan selanjutnya anda akan mendapatkan hasil Photogram anda dengan hasil yang mengejutkan.
Proses cetak foto ini harus dilakukan secara hati-hati dan disarankan menggunakan sarung tangan sebagai pelindung. Usahakan agar larutan Potassium Bichromate/Ammonium Bichromate tidak terpapar pada mata atau kulit. Dan jangan mencuci foto di wastafel untuk piring dan gelas.
Selanjutnya…

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *