Nihonga: Seni Lukis Tradisional Jepang yang Mendunia

lukisan nihonga

Nihonga dikembangkan sebagai bentuk counter-culture terhadap seni lukis barat – Yoga yang cukup populer di kalangan masyarakat seni Jepang ketika itu.

Pada sejarah panjang seni bangsa-bangsa Asia, Jepang menjadi salah satu yang memiliki peranan cukup penting. Seni yang ditampilkan oleh Jepang bukan hanya berkembang di tanah airnya saja, tetapi juga menyebar secara global dan memberikan pengaruh pada bangsa-bangsa lainnya.
Seperti halnya seni pada bangsa-bangsa lain, seni di Jepang pun mengalami perkembangan. Ia berkembang dinamis dengan mengadaptasi berbagai kemajuan yang datang. Sehingga kemudian seni di Jepang bersifat sangat lentur dan mudah diterima oleh bangsa-bangsa lain.
Salah satu bentuk kesenian Jepang yang berkembang dan memiliki pengaruh besar adalah Nihonga. Kesenian ini adalah salah satu bentuk seni lukis tradisional Jepang.
nihonga
Shimomura Kazan, 1915
Sebagai sebuah seni tradisi, Nihonga tentu saja terikat pada konvensi, tehnik dan material yang bersifat tradisional. Meskipun sudah berumur lebih dari ribuan tahun, Nihonga yang lahir dan berkembang di zaman Meiji ini sangat berbeda dengan Yamato-e, yang juga dikenal sebagai seni lukis tradisional Jepang.
Menurut sejarahnya, Seni ini dikembangkan sebagai bentuk counter-culture terhadap seni lukis barat – Yoga yang cukup populer di kalangan masyarakat seni Jepang ketika itu.
Meskipun demikian, tidak berarti Nihonga menjadi bentuk seni yang menolak budaya barat secara kaku. Hal ini terbukti dari bagaimana para seniman Nihonga mengadaptasi tehnik-tehnik seni lukis barat seperti bagaimana menampilkan perspektif dan membentuk bayangan – tehnik gelap-terang.
Berkembangnya teknologi mesin cetak di abad ke 18 hingga ke 19, serta  kemajuan industri media massa dan terbukanya perdagangan internasional, ternyata membawa pengaruh pada popularitas seni ini di Eropa.
Pada masa itu, seni lukis asal Jepang tersebut diapresiasi dengan baik, bahkan hingga menjadi inspirasi beberapa seniman besar, seperti misalnya Vincent Van Gogh dan  Aubrey Breadsley. Nihonga juga memberikan pengaruh terhadap gaya artistik seni yang berkembang di zaman itu, seperti Art and Crafts Movements dan Art Nouveau.
Meskipun telah hidup selama ribuan tahun, seni asal Jepang ini dianggap baru memasuki masa keemasan di rentang masa tahun 80 hingga 90an. Hiroshi Senju, Chen Wenguan, Takashi Murakami, Norihiko Saito, Makoto Fujimura dan Keizaburo Okamura adalah seniman-seniman besar yang membawa Nihonga pada bentuk dan tingkatan yang lebih kontemporer dan mendunia.

Material

Sebagai sebuah seni tradisi, Nihonga memiliki konvensi yang cukup baku. Karya lukis Nihonga umumnya dieksekusi di atas Washi – kertas Jepang atau Eginu – sutra dengan menggunakan kuas. Karkater warna dari seni ini adalah monochrome atau polychrome.
Warna monochrome dari seni lukis ini biasanya didapat dari sumi – tinta jepang yang terbuat dari jelaga dengan campuran perekat dari tulang ikan.
Sementara tampilan polychrome dibuat dari pigmen-pigmen warna yang terbuat dari bahan-bahan alami. Pigmen-pigmen warna ini umumnya berasal dari mineral seperti Malachite – material secamam tembaga, Azurite – tembaga berwarna biru gelap dan Cinnabar atau Kinabari bebatuan semacam bata merah dengan unsur merkuri di dalamnya.
Material-material tersebut kemudian dibubukkan hingga halus. Pigmen ini kemudian dicampurkan dengan Nikawa – semacam lem atau perekat. Sementara itu dalam eksekusinya, Nihonga ini menggunakan air untuk pencampur antar warnanya.
Dengan demikian, Nihonga ini termasuk ke dalam media lukis berbasis air. Sama persis dengan tehnik lukis barat yang seringkali menggunakan tehnik under painting, Nihonga pun menggunakan tehnik yang sama. Bedanya dalam Nihonga tehnik under painting ini dilakukan dengan material Gofun.
Gofun ini sendiri terbuat dari tiram dan cangkang kerang. Gofun dapat dibuat daam berbagai jenis yang masing-masing jenisnya akan menghasilkan kehalusan warna putih yang berbeda-beda pula.
Jika dilihat secara tradisi, Nihonga ini dibuat sebagai hiasan dalam bentuk gulungan, baik itu gulungan gantung – Kakemono atau gulungan tangan – Emakimono. Nihonga juga dibuat untuk pintu geser – Fusuma dan layar lipat – Byobu.
Di zaman modern, Nihonga dibuat di atas kertas Washi dan kemudian direkatkan pada panel kayu agar mudah untuk dibingkai. Nihonga ini memiliki keunikan tersendiri, meskipun dieksekusi di atas kertas, namun lukisan ini tidak membutuhkan kaca untuk pelindungnya. Karya-karya lukis Nihonga yang dieksekusi dengan material tradisional ini dapat bertahan hingga ratusan bahkan mencapai ribuan tahun.
Takashi Murakami, Arhat Series, 2013

Tehnik

Seni Lukis Nihonga sangat bergantung pada tehnik gradasi tone warna. Pada tampilan monochrome, dibutuhkan gradasi tone abu-abu dari hitam pekat hingga pada abu-abu yang mendekati putih.
Gradasi yang merepresentasikan gelap-terang ini dibutuhkan untuk membuat variasi bayangan yang baik. Terkadang gradasi abu-abu itu dibuat hingga mencapai warna kehijau-hijauan untuk merepresentasikan pepohonan, dedaunan atau pegunungan.
Hiroshi Senju, Cliffs, 2012
Untuk tampilan polychrome tehnik yang paling ditekankan di sini adalah keputusan akan hadirnya garis tepi – outlines pada obyek yang dilukis. Ada beberapa obyek seperti misalnya burung atau tanaman yang jarang sekali ditampilkan dengan garis tepi.
Sementara itu, tehnik layering seperti pada tehnik cat air menjadi tehnik yang penting untuk menciptakan kontras pada lukisan Nihonga. Terkadang juga beberapa pelukis Nihonga menggunakan lembaran emas dan perak sebagai elemen pelengkap untuk lukisannya.   
Sumber
Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel lainnya