10 Pahlawan Kebudayaan yang Harus Kamu Tahu

961

Pahlawan kebudayaan adalah orang-orang hebat yang memiliki kontribusi besar bagi negeri ini. Dedikasi dan konsistensinya terhadap seni dan budaya membuat mereka pantas untuk menyandang gelar tersebut.

Tisna Sanjaya

pahlawan kebudayaan tisna sanjaya
Tisna Sanjaya merupakan salah satu tokoh seni rupa Indonesia yang mendunia. Karya-karyanya yang bertemakan  sosial dan lingkungan, Ia tuangkan di berbagai medium seperti lukisan, instalasi dan Performance Art.
Pada tahun 2003, karya-karyaya dipamerkan di salah satu ajang seni rupa terbesar dunia yaitu Venice Biennale. Pada tahun 2008 Ia mendirikan Imah Budaya (IBU). Sebuah pusat kebudayaan serta ruang budaya yang berlokasi di Cigondewah, Bandung, Jawa Barat. Uniknya Tempat ini didirikan di atas lahan yang dulunya merupakan tempat pembuangan sampah terbesar di Bandung.
Lahan tersebut ia dapatkan dengan cara menukarkan beberapa karyanya. Lahan yang dulunya tidak produktif Ia ubah menjadi tempat berkegiatan kreatif. Tidak hanya itu, Tisna Sanjaya juga di daulat memerankan sosok Si Kabayan dalam acara di televisi lokal di Bandung.
Dengan menggunakan media televisi, sosok Kabayan Ia gunakan sebagai media kritik dan untuk menampilkan persoalan-persoalan sosial yang terjadi di masyarakat. Pada 2014, Tisna Sanjaya menerima penghargaan Anugerah Adhikarya Seni Rupa dari Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Republik Indonesia.

N.H Dini

pahlawan kebudayaan nh dini
Pahlawan kebudayaan yang satu ini tentunya sudah tidak asing lagi Di dunia sastra Indonesia. N.H Dini, berawal dari kegemarannya menulis di buku harian dan majalah dinding sekolah, pada tahun 1952, Nh. Dini akhirnya mendapat apresiasi yang luar biasa kala itu. Sajaknya dimuat di majalah Budaja dan Gadjah Mada di Jogjakarta serta dibacakan pada acara “Kuntjup Mekar” di Radio Jakarta.
Semenjak itu N.H Dini semakin  produktif dan melahirkan banyak karya-karya sastra seperti puisi, cerpen dan novel. Pada tahun 1986, N.H Dini mendirikan pondok bacaan di desa Kedung Pani, Semarang. Sekarang ini pondok bacaan itu berdiri di kota Jogjakarta.
Di pondok ini ia membimbing dan memupuk bakat menuiis anak-anak di desa tersebut demi keberlangsungan satra dan literasi Indonesia. Karya-karyanya yang notabene bertemakan perempuan membuat Ia dinobatkan sebagai pelopor penulis feminis sastra Indonesia modern.

Elfa Secioria

pahlawan kebudayaan elfa secoria
Kejeniusannya di bidang musik tidak diragukan lagi. Melalui musik, Elfa Secioria berhasil mengharumkan nama Indonesia di ajang musik Internasioanal.
Begitu banyak penghargaan telah diraihnya. Melalui dirinya pula banyak lahir penyanyi-penyanyi hebat seperti Andien, Hedi Yunus dan Yana Julio. Perhatiannya terhadap musik indonesia begitu besar, Hal ini dibuktikannya dengan mendirikan Elfa Music Studio pada tahun 1981.
Atas prestasinya yang terus melahirkan bintang-bintang baru di blantika musik Indonesia, Elfa Music Studio kemudian berganti nama menjadi Elfa Music School pada tahun 2004. Kini Elfa Music School menjadi salah satu sekolah musik terbesar di Indonesia dan tak berhenti melahirkan bakat-bakat baru di blantika musik Indonesia.

Emha Ainun Nadjib

pahlawan kebudayaan cak nun
Emha Ainun Nadjib atau yang akrab dengan panggilan Cak Nun adalah budayawan sekaligus tokoh intelektual muslim Indonesia.
Bersama grup musik Kiai Kanjeng dan komunitas Masyarakat Padang Bulan, Ia berkeliling ke daerah- daerah di Indonesia. Dalam aktivitasnya itu Cak Nun berdialog langsung dengan masyarakat, sekaligus berbagi tentang nilai-nilai spiritualitas, budaya, seni, politik, dan kebangsaan dengan mengedepankan semangat pluralisme.
Tidak hanya itu, Cak Nun juga membuat karya-karya seperti puisi, teater dan esai. Pada tahun 2011, Cak Nun memperoleh Penghargaan Satyalancana Kebudayaan 2010 dari Republik Indonesia.

Didik Nini Thowok

pahlawan kebudayaan 2
Maestro tari yang satu ini bisa dibilang penyelamat sekaligus penjaga budaya. Berkat beliau, tarian cross gender yang bisa dikatakan hampir punah akhirnya dapat dilestarikan.
Sang maestro itu bernama Didik Nini Thowok, pria yang lahir di Temanggung, Jawa Tengah ini telah menggeluti seni tari sejak masih kanak-kanak. Hingga hari ini, beliau tercatat telah menciptakan ratusan tarian yang telah dipentaskan di berbagai negara.
Konsistensinya di dunia tari, tidak perlu diragukan lagi. Kerja keras dan dedikasinya terhadap seni tari dan budaya membuat namanya berada sejajar dengan maestro-maestro tari lainnya seperti Bagong Kussudiardjo, Sujana Arja dan Raka Rasmi.

Riantiarno

pahlawan kebudayaan
Norbertus Riantiarno, itulah nama panjang dari pendiri Teater Koma, sebuah grup teater terbesar di Indonesia.
Riantiarno telah menggeluti teater sejak tahun 1965. Kecintaannya dan konsistensinya di dunia teater membuatnya mendapatkan banyak penghargaan.
Melalui  Teater Koma, seni pertunjukan teater di Indonesia tetap hidup dan terus berkembang di tengah bombardir berbagai pertunjukkan di media elektronik. Karena perjuanganya tersebut, Riantiarno ini layak dianugrahi sebagai pahlawan kebudayaan

Titiek Puspa

Titiek Puspa merupakan seorang penyanyi sekaligus composer lagu. Saat ini, Titiek Puspa menjadi salah satu Legenda hidup musik Indonesia yang masih ada dan terus eksis.
Di tahun 70an, Ia sudah menciptakan 300 lagu. Lagu-lagu yang hingga kini pun masih dinyanyikan oleh musisi-musisi muda Indonesia.
Karirnya di bidang musik sudah tidak diragukan lagi. Bernyanyi di berbagai panggung, radio, televisi hingga istana sudah pernah Ia cicipi.
Lagu-lagunya yang bertemakan kehidupan, sosial dan kebangsaan seakan-akan tidak lekang ditelan zaman.

Asmuni

Totok Asmuni merupakan Komedian legendaris Indonesia. Punggawa Srimulat yang bergabung pada tahun 1976 ini merupakan salah satu tokoh sentral di grup lawak tersebut.
Bersama Tarzan, Gepeng, dll, Asmuni dianggap sebagai the golden generation  dari grup lawak tersebut. Bahkan kelak gayanya memiliki pengaruh yang kuat pada generasi-generasi pelawak selanjutnya.
Celetukan-celetukan dan plesetan-plesetan yang dibawakan Asmuni seperti “Hil yang Mustahal,” atau misalnya “diselikidi” menjadi ciri khas dari grup lawak ini. Dan sampai saat ini, gaya plesetan Asmuni itu pun masih terus hidup melalui para pelawak-pelawak muda.
Dan rasanya, gaya lawak Asmuni itu pun masih akan terus bertahan dan melampaui berbagai perubahan zaman.

Mira Lesmana

Mira Lesmana adalah produser yang dapat dikatakan sebagai “Messiah” atau “juru selamat” dari perfilman Indonesia. Di tahun 2000an, Ia membangkitkan lagi gairah perfilman Indonesia yang sempat mati suri.
Lewat film “Petualangan Sherina” yang disutradarai oleh Riri Riza, Mira Lesmana berhasil menarik kembali perhatian masyarakat terhadap film Indonesia.
Sejak saat itu, gairah perfilman Indonesia mulai bangkit kembali. Film-film Indonesia mulai banyak diproduksi dan melahirkan Sineas- sineas dan bintang-bintang baru dunia perfilmn Indonesia.
Melalui Miles Film, Mira Lesmana pun terus memproduksi karya-karya film yang berkualitas dan inspiratif.

Christine Hakim

Di dunia seni peran Indonesia, nama Christine Hakim sudah tidak perlu diragukan lagi. Debutnya di dunia film mengantarkannya meraih piala Citra kategori pemeran utama wanita terbaik di tahun 1973 lewat film besutan Teguh Karya, “Cinta Pertama.”
Semenjak itu, puluhan film telah Ia bintangi. Atas karirnya itu, pada tahun 2016, Christine Hakim mendapatkan penghargaan Lifetime Achievement di Festival Film Indonesia serta Lifetime Achievement Indonesian Movie Actors Awards tahun 2017.
Selain film, Ia pun menjadi aktivis pendidikan dan autisme. Mulai tahun 2008, ia telah menjabat sebagai Duta Indonesia untuk UNESCO, dengan fokus pada masalah pada pendidikan.
Apa yang membuat Christine Hakim menjadi pahlawan kebudayaan bukanlah hanya prestasinya saja. Tetapi juga dilihat dari konsistensi dan dedikasinya pada dunia perfilman yang memberikan warisan dan inspirasi luar biasa bagi generasi muda.
Foto diambil dari berbagai sumber

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here