Fotografi dari Era Analog Hingga Digital

Cara menggunakan kamera DSLR bagi pemula di dunia fotografi pada era digital ini pada dasarnya sama persis dengan yang dilakukan di era fotografi analog dulu.

Di era digital ini, salah satu hal yang tidak bisa dilepaskan dari keseharian kita saat ini adalah fotografi. Setiap harinya, kita dibanjiri oleh imej-imej visual yang sebagian besar dihasilkan dari fotografi. Imej-imej itu sering kita temui dalam bentuk iklan fisik, seperti billboard, poster, pamflet atau flyer, iklan elektronik, seperti di televisi hingga digital advertising yang muncul di smartphone, tablet atau laptop kita.
Dan hal tersebut belum termasuk puluhan hingga ratusan juta imej yang setiap harinya di-posting di berbagai platform media sosial, seperti instagram atau twitter misalnya.
Banyaknya citraan fotografi itu menandakan tingginya kebutuhan industri akan produk fotografi. Tentu saja hal ini menjadi peluang besar untuk kamu yang hobi atau ingin mencari nafkah dari dunia fotografi. Meskipun demikian, hal itu juga diiringi dengan pertumbuhan kompetitor dan peningkatan daya saing yang tinggi.
Mengapa demikian?
Membanjirnya imej-imej fotografis tentu tidak dapat dilepaskan dari semakin mudahnya orang-orang di era sekarang ini untuk mengakses fotografi. Hanya berbekal smartphone saja, kita sudah dapat membuat karya fotografi yang baik dan menarik, tanpa harus memiliki kamera DSLR. Belum lagi dukungan berbagai aplikasi filter fotografi yang dapat mengkoreksi dan membuat hasil foto kita menjadi sangat indah.
Dengan begitu, untuk membuat sebuah karya foto yang bagus, bukankah akhirnya seseorang tidak lagi harus mengetahui tehnik-tehnik fotografi yang baik?
Apakah dengan begitu kemudian seseorang tersebut bisa dikatakan seorang fotografer?

Fotografi Di era Analog

Insting artistik dan aesthetics sense bukanlah teori atau tehnik yang dapat dipelajari. Ia tumbuh dalam diri seorang fotografer melalui proses belajar dan jam terbang.
Memotret di era analog sangat jauh berbeda dengan di era sekarang ini. Keterbatasan film, harga kamera dan peralatannya yang cukup tinggi serta proses cetak yang juga tidak mudah, membuat tidak banyak orang mau bermain di dunia fotografi. Alhasil seorang fotografer di era ini wajib menguasai tehnik fotografi secara teknis, baik itu fungsi-fungsi kamera seperti; diafragma, speed, ISO dan juga tehnik pencahayaan, agar proses pemotretan menjadi efektif dan efisien.
Edward Weston, Surf, China Coves, Point Lobos. 1938. Hasil karya di zaman fotografi analog yang masih memukau hingga hari ini.
Seorang fotografer juga harus mengetahui dengan baik bagaimana cara memanfaatkan fungsi-fungsi  kamera tersebut, bukan hanya untuk menghasilkan foto yang baik, tetapi juga untuk membuat foto yang bernilai dan berkarakter. Selain itu ia wajib memiliki insting artistik dan aesthetics sense agar foto yang dihasilkan memiliki nilai estetika.
Insting artistik dan aesthetics sense bukanlah teori atau tehnik yang dapat dipelajari. Ia tumbuh dalam diri seorang fotografer melalui proses belajar dan jam terbang. Insting ini sangat unik, dan berbeda-beda di setiap orang. Tergantung pada referensi dan preferensi atau kesukaan sesorang terhadap sesuatu. Hal inilah yang akan membuat sebuah karya fotografi memiliki karakter dalam bentuk nilai-nilai ekspresi dan personal.

Digitalisasi Fotografi

Tidak lama setelah peluncuran produk DSLR, segala sesuatunya tentang fotografi berubah.
Era digitalisasi fotografi ditandai oleh diluncurkannya produk kamera Digital dalam bentuk DSLR – Digital Single Lens Reflection. Nantinya diikuti dengan produksi dan peluncuran berbagai jenis dan versi kamera termasuk jenis kamera Medium Format dan yang belakangan ini cukup menjadi fenomena adalah jenis action camera yang dipelopori oleh brand kamera Go Pro.
Minolta, salah satu DSLR generasi pertama yang diluncurkan di tahun 1995.
Tidak lama setelah peluncuran produk DSLR, segala sesuatunya tentang fotografi berubah. Padahal secara sederhananya, kamera dalam bentuk digital ini hanya mengganti film seluloid dengan sensor CMOS – Complementary Metal Oxide Semiconductor. Namun dampaknya begitu besar hingga membawa kita ke era serbuan citraan fotografi seperti sekarang ini.
Meskipun demikian, masih ada hal yang tidak berubah dari fotografi. Meskipun era sudah berganti dan memotret sudah semudah menjentikkan jari, namun untuk menjadi fotografer masih harus ditempuh dengan cara yang tradisional. Seorang fotografer bukanlah saja orang yang sering memotret dan menghasilkan foto yang bagus dan indah.
cara menggunakan kamera dslr bagi pemula
Jika demikian, apa yang dibutuhkan untuk menjadi seorang fotografer?
Dari sisi seni, seorang fotografer adalah orang lekat dengan medium fotografi dan menjadikannya sebagai bentuk medium artistiknya untuk mengekspresikan berbagai gagasan yang ia miliki. Dari sisi ekonomi, seorang fotografer adalah orang yang menggantungkan hidup pada dunia fotografi itu sendiri.
Untuk itu langkah pertama menjadi seorang fotografer adalah dengan mempelajari cara penggunaan kamera. Dan cara menggunakan kamera DSLR bagi pemula di dunia fotografi pada era digital ini pada dasarnya sama persis dengan yang dilakukan di era fotografi analog dulu.

Mengenal Dunia Fotografi melalui Cahaya dan Kamera

Mengenali dunia fotografi, salah satunya harus terlebih dahulu mengenali karakteristik kamera dan cahaya sebagai perangkat utamanya. Kamera dan cahaya layaknya kuas dan cat di dalam dunia seni lukis.
Cahaya membuat suatu obyek dapat tampak di mata kita. Tanpa cahaya, di dalam kegelapan misalnya, meskipun obyek itu nyata, hadir, dapat diraba dan disentuh, namun obyek itu tidak akan tampak. Oleh karena itu, kehadiran cahaya meskipun dengan intesitas yang paling rendah sekalipun, akan membuat obyek itu menjadi tampak.

Prinsip Dasar Cahaya

Jika matahari sebagai sumber cahaya alami, maka di fotografi, seorang fotografer bisa menggantinya dengan lampu sebagai sumber cahaya buatan atau pengganti.
Seperti kita tahu, cahaya adalah obyek alam yang dinamis. Cahaya tidak pernah hadir secara konsisten di setiap waktunya. Ia sangat bergantung pada pergerakan matahari. Cahaya di pagi hari akan berbeda dengan cahaya di siang hari atau senja.
Karakteristik cahaya yang inkonsisten ini kemudian akan memberi karakteristik juga pada tampilan obyek yang disinarinya. Di waktu-waktu tertentu, obyek akan terlihat sangat kontras, bisa juga flat atau datar, dan bisa juga sangat gelap, hingga sulit untuk dikenali.
Dari berbagai rangkaian perbedaan karakter cahaya, ada momen-momen tertentu di mana obyek akan tersinari dengan baik sehingga ia tampil dalam bentuk visual yang indah dan menggugah. Momen-momen ini disebut Golden Hour atau Magic Hour dalam fotografi. Khusus untuk momen ini kita akan membahasnya pada artikel khusus.
Camera Obscura yang menjadi prinsip dasar dari fotografi.
Prinsip dan karakteristik cahaya ini sangat penting bagi seorang fotografer di dalam memotret. Karena dari situlah kita bisa menghasilkan foto yang baik dan indah. Namun tentu saja, tidak setiap hari kita bisa mendapat cahaya yang bagus. Oleh karena itu, para fotografer melakukan manipulasi cahaya tersebut dengan menggunakan pencahayaan artificial.
Bentuknya bermacam-macam, bisa built-in flash di kamera, external flash, soft box dll. Tetapi yang harus kita pahami adalah bahwa apa pun itu bentuk lampu atau pencahayaan artifisial, intinya adalah untuk meniru karakteristik dari cahaya alami yang diberikan oleh matahari.
cara menggunakan kamera dslr bagi pemula
Jika matahari sebagai sumber cahaya alami, maka di fotografi, seorang fotografer bisa menggantinya dengan lampu sebagai sumber cahaya buatan atau pengganti.
Cara menggunakannya pun sangat beragam, namun intinya, lampu sebagai sumber cahaya buatan, harus meniru dengan baik prinsip kerja dan karakteristik cahaya alami agar menghasilkan foto yang baik dengan pencahayaan yang natural. Umumnya para fotografer menggunakan lampu atau cahaya buatan untuk memanipulasi karakteristik cahaya yang muncul di momen-momen Golden Hour atau Magic Hour.
Jika cahaya bisa memberikan karakteristik pada tampilan suatu obyek, maka kemudian apa fungsi dari kamera?

Prinsip Kerja Kamera

Jenis kamera DSLR adalah kamera dengan jenis cermin tunggal, oleh karena itu disebut Single Lens Reflection.
Prinsip kerja kamera pada dasarnya adalah merefleksikan atau memantulkan berbagai obyek yang disinari tadi melalui perangkat lensa dan cermin yang ada di dalam kamera ke dalam film seluloid atau di sensor CMOS yang ada pada kamera digital.
Pada fotografi analog, hasil pantulan tadi akan terlihat pada lembaran film. Sementara pada fotografi digital, hasil pantulan tadi akan diterjemahkan oleh Operating System yang ada di sensor CMOS untuk kemudian dapat dilihat dalam layar LCD display yang berada di bagian belakang kamera.
Selain sensor, cermin yang berfungsi sebagai pemantul cahaya beserta obyek yang disinarinya merupakan bagian yang sangat penting. Bunyi klik ketika kita menekan tombol rana – Shutter Speed adalah pertanda, cermin bekerja dengan baik.
Bentuk cermin tunggal pada kamera DSLR.
Jenis kamera DSLR adalah kamera dengan jenis cermin tunggal, oleh karena itu disebut Single Lens Reflection.
Jenis itu bukanlah satu-satunya, ada lagi kamera yang bekerja dengan dua cermin yang disebut TLR – Twins Lens Relfection. Jenis kamera ini cukup populer pada masanya. Dengan berbentuk medium format, kamera yang identik dengan brand Rolleiflex ini malah masih banyak yang memburu hingga hari ini.
Selain itu ada juga kamera yang bekerja tanpa cermin sekalipun. Di era fotografi analog jenis kamera ini disebut Range Finder, salah satu produsen terbaik jenis kamera ini adalah Leica. Di era digital, kamera ini dibuat versi modifikasinya yang kerap disebut sebagai Mirrorless Interchangeable Lens Digital Camera. Ada lagi produsen kamera yang memproduksi kamera dengan jenis SLT – Single Lens Translucent.
Untuk lebih detail tentang tipe-tipe kamera, kita akan bahas di artikel yang lain.

ISO, Speed & Diafragma

Penguasaan ISO, Speed dan Diafragma adalah hal yang sangat penting sebagai cara menggunakan kamera DSLR bagi pemula fotografi untuk membuat foto yang indah, dan bukan hanya sekedar mengambil foto saja.
Selain sensor dan cermin ada lagi bagian penting dan vital dalam memproduksi sebuah foto melalui kamera. Pada kamera DSLR, bagian-bagian ini terbagi di dalam dua perangkat. Pada badan kamera, terdapat sistem ISO. ISO itu sendiri, secara sederhana adalah kemampuan sensitifitas sensor CMOS dalam menerima cahaya. Semakin besar angka ISO-nya, maka akan semakin besar kemampuan sensor dalam memberikan kecerahan pada foto yang kita hasilkan.
Ukuran ISO yang umum terdapat pada kamera biasanya ada di rentang 100 -1600. Semakin besar angkanya semakin besar kecerahan yang dihasilkan.
Yang kedua adalah Speed atau kecepatan. Bagian ini yang mengatur tingkat kecepatan buka tutup rana (tirai) pada sensor. Perlu kita ketahui, bahwa di dalam Kamera DSLR, sensor tidak terbuka dengan gamblang, tetapi ada tirai yang menutupinya.
Semakin lama kecepatan bukanya, maka makin banyak cahaya yang akan masuk. Semakin cepat tirai membuka dan menutup maka akan semakin sedikit cahaya yang masuk.
Speed bisa dilihat dari ukuran satuan per detik. Pada kamera, kita akan melihat angka 1/25, 1/100, 1/125 dan lain sebagainya. Semakin besar angka pembaginya, maka akan semakin cepat terbuka dan akan semakin sedikit cahaya yang masuk.
Angka speed 1/30 akan lebih lama terbuka dibanding 1/125. Maka gambar yang dihasilkan pun akan menampilkan tingkat kecerahan yang berbeda.
Bagian ketiga adalah Diafragma. Bagian ini selalu terdapat pada lensa. Diafragma adalah bagian dari lensa yang menentukan kemampuan lensa untuk menerima cahaya. Kemudian ada yang disebut sebagai Aperture. Bagian ini adalah ukuran lubang diafragma pada lensa.
Setiap lensa memiliki diafragma dan rentang panjang focal yang bervariasi. Untuk tahu lebih jelas tentang lensa, kita akan membahasnya pada artikel yang lain.
Diafragma dan aperture disimbolkan dengan huruf “f “ dan ukuran lubang dilambangkan oleh angka misalnya “5.6.” Keseluruhan simbolnya akan terlihat seperti ini; f/5.6 pada layar LCD display kamera. Itu artinya, lensa yang terpasang di badan kamera sedang diatur pada ukuran bukaan 5.6.
Pada lensa sendiri umumnya sudah dicantumkan kemampuan maksimal dari lensa tersebut, misalnya untuk lensa canon 50 mm, akan tertulis f/1.8. Itu artinya, kemampuan maksimal lensa tersebut ada di bukaan 1.8.
Untuk membaca diafragma ini sangat unik, karena semakin besar angkanya, maka akan semakin kecil bukaannya. Semakin sedikit pula intensitas cahaya yang dapat diterima oleh lensa tersebut. Sebaliknya, semakin kecil, angka, maka semakin besar bukaannya, dan semakin besar cahaya yang dapat diterima.
Ketiga bagian tersebut bukan hanya berperan dari sisi teknis saja. Penguasaan ISO, Speed dan Diafragma adalah hal yang sangat penting sebagai cara menggunakan kamera DSLR bagi pemula fotografi untuk membuat foto yang indah. Dan bukan hanya sekedar mengambil foto saja. Sesuai dengan slogan fotografi, making picture not taking picture!

Membuat Foto berkarakter dengan ISO, Speed & Diafragma

Daya tarik sebuah foto dapat dilihat dari berbagai sudut pandang. Ada yang melihatnya dari konten dan subject matter yang diangkat, misalnya memberikan kebaruan informasi, seperti pada foto jurnalistik. Ada juga yang melihat dari sisi teknis, seperti komposisi, tone dan mood, misalnya pada genre fotografi piktorialiasme.
Ada pula yang melihatnya berdasarkan umur dari foto tersebut. Misalnya, foto di tahun 1800an, jika dilihat sekarang ini akan menjadi sangat menarik, karena informasi atau konten yang diangkatnya bisa menjadi pengetahuan baru. Dan banyak lagi daya tarik dari bisa dilihat dari sebuah karya foto.
Namun diantara semuanya ada hal yang sangat penting yang harus diperhatikan, yaitu, bagaimana foto itu dipresentasikan atau ditampilkan. Foto yang memiliki konten yang menarik, akan tampak biasa saja jika ditampilkan dengan cara yang biasa saja.
Tetapi konten itu akan menjadi menonjol dan menarik jika ditampilkan atau dipresentasikan dengan cara yang tepat. Cara inilah yang disebut sebagai karakter dari sebuah foto. Dan hal ini bisa kamu lakukan dengan menguasai tiga elemen penting dari kamera, yaitu; ISO, Speed & Diafragma.
Seperti sudah dibahas sebelumnya, kita tahu bahwa tiap elemen memiliki rentangnya masing-masing. Misalnya, beberapa kamera memiliki rentang ISO dari 200 hingga 3200 dan Speed dari Bulb hingga 1 detik.
Masing-masing badan kamera memiliki rentang ISO dan Speed yang berbeda-beda. Di beberapa lensa ada yang memiliki rentang diafragma antara f/1.8 hingga f/20. Tentu saja tiap lensa juga memiliki rentang diafragma yang berbeda-beda. Dan karakter dari sebuah foto dapat dihasilkan dari kombinasi antara tiga elemen tersebut.
Tiap titik pada rentang ini pada dasarnya memiliki  karakter yang berbeda-beda. Misalnya pada pemotretan dengan cahaya sunset, foto yang dihasilkan dengan kombinasi ISO 800, Speed 1/15 dan Aperture (bukaan diafragma) f/1.8, hasilnya akan berbeda dengan kombinasi ISO 400, Speed 1/125 dan Aperture f/8.
cara menggunakan kamera dslr bagi pemula
Foto yang diambil dengan kombinasi pertama.
Kombinasi pertama akan menghasilkan foto yang terang namun akan rentan sekali blur, karena sumber cahayanya memiliki intensitas yang rendah.
Kombinasi kedua akan menampilkan foto yang cenderung gelap, dengan obyek-obyek yang berbentuk siluet. Tetapi pada kombinasi ini, foto akan tampil lebih tajam dan solid, sekaligus dapat menangkap keindahan biasan cahaya sunset yang romantis. Dari kombinasi kedua ini pun kita akan mendapatkan mood dan nuansa sunset untuk foto yang kita buat.
cara menggunakan kamera dslr bagi pemula
Foto yang diambil dengan kombinasi yang kedua.
Kombinasi tiga elemen itu bukanlah hal yang baku. Kamu bisa mengubah sesukanya untuk mendapatkan karakter foto yang kamu inginkan.
Biasanya seorang fotografer memiliki formula tersendiri untuk menghadapi berbagai momen dan kondisi cahaya yang dihadapinya. Termasuk juga dengan menggunakan light meter dan lampu flash sebagai alat bantu untuk menghasilkan foto yang diinginkan. Tetapi sekali lagi, semuanya terserah pada si fotografer, tidak ada hal yang wajib atau baku dalam proses eksekusi sebuah foto,
Foto yang indah bukanlah dihasilkan dari tehnik yang standar saja, tetapi juga dari bagaimana usaha seorang fotografer dalam menembus batas-batas standar itu untuk menemukan karakter yang tepat untuk konten yang ia bawa di dalam karya fotonya.
Meskipun demikian, ada juga tehnik-tehnik standar yang wajib diketahui sebagai salah satu cara menggunakan kamera DSLR bagi pemula di dunia fotografi. Misalnya pada elemen Speed. Speed pada titik 1/30 detik dianggap sebagai batas antara shake dan anti-shake.
Artinya, Speed di atas 1/30 (lebih cepat dari 1/30) akan lebih meredam getaran, dengan kata lain, foto akan terhindar dari efek blur dan akan akan tampil lebih tajam. Namun semakin tinggi kecepatannya, maka cahaya yang masuk pun akan semakin sedikit. Pada kondisi cahaya tertentu, tingkat speed seperti ini akan menghasilkan foto yang gelap.
Sementara itu speed di bawah 1/30 (lebih lambat) akan sangat rentan pada getaran. Sehingga foto yang dihasilkan pun akan rentan sekali dengan efek blur. Karena lebih lambat, cahaya yang masuk akan lebih banyak. Dan foto yang dihasilkan pun akan lebih terang. Biasanya Speed rendah dibutuhkan pada kondisi low light (intensitas cahaya kurang) dan lensa kita tidak memiliki bukaan yang cukup besar.
Tinggi rendahnya ISO umumnya akan berpengaruh pada munculnya efek grainny pada foto yang kita hasilkan. Efek ini berbentuk titik-titik putih, seperti distorsi. Semakin besar angkanya, semakin besar juga efek grain-nya.
Umumnya para fotografer menandai batas maksimalnya pada angka ISO 800. Di atas angka itu, efek grain akan muncul dominan. Efek ini tidak bersifat buruk, karena ada para fotografer juga yang memang sengaja dan mengejar efek grain ini sebagai karakter dari foto-foto yang mereka buat.
Bukaan diafragma atau aperture juga memberikan karakter yang khas pada foto yang kita buat. Pada elemen ini tidak ada batas standar seperti pada dua elemen sebelumnya, Speed & ISO. Akan tetapi, elemen Aperture ini memberikan kontribusi banyak terhadap karakter sebuah foto.
Umumnya ada dua karater yang dapat dihasilkan dari memainkan besaran pada bukaan aperture. Pertama adalah High Depth of Field. Karakter ini menampilkan ketajaman yang menyeluruh pada obyek di foto yang kita buat. Umumnya karakter ini digunakan untuk foto-foto lanskap, namun bisa juga untuk jenis foto yang lain. Karakter ini akan muncul ketika kamu menggunakan aperture kecil seperti f/8 hingga f/20.
Kedua adalah Low Depth of Field. Karakter ini akan menampilkan ketajaman pada obyek yang difokuskan saja. Sementara itu, latar belakang atau obyek-obyek lainnya akan tampak blur. Foto-foto jenis ini seringkali disebut foto dengan efek “bokeh.” Karakter ini akan muncul ketika kamu menggunakan aperture besar, seperti misalnya f/3 hingga f/1.8.
Semakin besar bukaan aperture-nya, maka akan semakin kontras efek “bokeh” yang didapat. Selain itu, jarak kamera pada obyek juga akan menentukan hasil “bokeh”-nya. Selain aperture, pada lensa-lensa zoom dengan rentang yang panjang juga dapat menghasilkan efek seperti ini.
cara menggunakan kamera dslr bagi pemula
Foto yang diambil dengan karakter Low Depth of Field.
Dengan mengetahui berbagai karakter dari tiga elemen penting kamera serta cara pengkombinasiannya, kamu akan mendapatkan hasil yang maksimal pada foto yang kamu buat. Tidak hanya itu, kamu bisa juga melalukan eksperimen dan eksplorasi pada kombinasi tersebut, bahkan hingga tingkat yang ekstrem sekali pun.
cara menggunakan kamera dslr bagi pemula
Foto yang diambil dengan karakter HIgh Depth of Field. Semua obyek tampak lebih tajam dibanding foto dengan Low Depth of Field.
Sebuah karya fotografi yang berkarakter, bukanlah saja dihasilkan dari pencahayaan yang bagus dan menyeluruh. Ada juga yang mencari pencahayaan redup atau low light untuk membuat suatu karakter foto yang sangat kontras. Cara ini bahkan dijadikan suatu tehnik umum, tehnik yang disebut Low-Key Photography.
Di satu sisi, kondisi berlebihan cahaya, dan hasil foto yang over exposure juga menjadi tehnik lain yang sangat digemari. Tehnik ini kerap disebut sebagai High-Key Photography.
Jadi semuanya akan kembali pada fotografernya. Foto yang indah bukanlah dihasilkan dari tehnik yang standar saja, tetapi juga dari bagaimana usaha seorang fotografer dalam menembus batas-batas standar itu untuk menemukan karakter yang tepat untuk konten yang ia bawa di dalam karya fotonya.
Nah setelah mengetahui cara-cara menggunakan kamera DSLR bagi pemula di dunia fotografi digital, kamu tentu tidak perlu ragu lagi untuk memulai membuat foto pertama kamu. Pilihlah konten yang menarik menurut kamu, temukanlah karakter yang tepat dan tampilkanlah foto itu dengan cara yang membuat semua orang terpukau.

Foto-foto diambil dari berbagai sumber.

Facebook
Twitter
LinkedIn
Pinterest

2 Responses

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel lainnya